ISLAMISASI PENGETAHUAN KONTEMPORER

       Di zaman modern seperti saat ini umat islam semakin sadar akan pentingnya islamisasi ilmu. Membuat teori baru yang berlandaskan keislaman dan meninggalkan teori lama yang hanya membahas secara linear saja tanpa ada unsur Sang Pencipta. Seperti halnya teori Darwin yang menyatakan bahwa manusia berasal dari kera. Kemudian dirubahlah teori ini ke dalam teori yang lebih empiris dan masuk akal yaitu manusia adalah keturunan nabi Adam yang diciptakan Allah SWT. Banyak teori barat yang menyimpang dari ajaran agama dan secular yakni memisahkan pengetahuan dengan agama. Yang pada kenyataannya agama adalah landasan hidup semua manusia yang tidak dapat terpisahkan oleh apapun. Oleh karena itu sebagai umat muslim kita harus memperbaharui teori- teori barat yang sekuler dan mengislamisasikannya.
    Secara epistemologis atau secara dasar keilmuan, islamisasi pengetahuan kontemporer sangat diperlukan. Seiring berkembangnya zaman masyarakat juga turut berkembang. Masyarakat mulai sadar akan teori-teori lama yang menentang agama. Banyak teori-teori yang tak bersumber pada Al-Quran, padahal semua hakikat pengetahuan baeasal dari wahyu Allah yang diturunkan ke muka bumi ini kepada nabi Muhamad SAW melalui malaikat Jibril  yaitu Al-Quran. Karena untuk mendapatkan ilmu yang mutlak kebenarannnya juga harus bersumber pada sumber ilmu yang benar juga. Di sinilah perlunya islamisasi pengetahuan kontemporer yang sebelumnya tidak bersumber pada sumber yang benar yaitu Al-QurannulKarim.
     Karena itulah sejatinya semua ilmu harus diislamisasikan. Kita dapat menganalisis suatu penegetahuan dengan dasar utama yaitu Al-Quran. Baik yang bersifat objektif maupun subjektif.  Dan apabila kita membadingkan dengan teori-teori barat, teori barat sangatlah tidak sistematis.  Memang apabila kita cermati dalam sejarah ilmu pengetahuan, tradisi berfikir umat islam adalah berfikir yang sangat rasionalis dan khas berbasis tauhid mampu membawa kejayaan peradaban Islam berabad-abad lamanya.
       Sedangkan secara aksiologis atau yang berkaitan denagn hakikat dan manfaat  pengetahuan itu adalah bagaimana implementasi dalam kehidupan manusia. Penggunaan islamisasi ilmu sangat mutlak kebenarannya berbeda dengan pengetahuan yang tanpa islamisasi akan sangat jauh kebenarannnya dari kenyataan. Contoh saja apabila dalam teori barat mengatakan bahwa bumi berputar menggelilingi matahari, maka dalam islamisasi pengetahuan dinyatakan bahwa bumi diputar oleh Sang Pencipta menggelilingi matahari. Terlihat jelas perbedaan dua teori tersebut dimana teori islamisasi sangat lebih rasional dan masuk akal ketimbang teori barat sebelumnya. Yang dinyatakan secara tidak langsung bahwa bumi dengan sendirinya berputar  denagn sendirinya tanpa adanya Sang Pencpta yang pada hakikatnya yang memutarnya. Jelaslah kebenaran mutlak yang dimiliki dua teori tersebut sangat condong pada teori yang telah diislamisasi.
        Dan untuk secara ontologis yang berasal dari Yunani, artinya: "menjadi" (partisip netral dari "menjadi")(dan-logia: ilmu, penelitian, teori) adalah studi filosofis tentang eksistensi atau kenyataan seperti itu, serta menjadi kategori dasar makna pengetahuan tersebut. Islamisasi pengetahuan kontemporer bisa dirumuskan sebagai pengetahuan yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis. Yang pada kenyataannya teori-teori barat sangat jauh dari kata realitas karena mereka hanya bersumber pada pikiran mereka sendiri yang tidak nyata atau dalam artian hanya berdasarkan logika meraka saja dam menghapuskan realita Sang Pencipta dalam teorinya. Dan islamisasi pengetahuan ini adalah sesuatu yang sangat kritis memadukan adntara logika dan realita yang mutlak kebenarannnya.
       Dalam entitas ilmu ini ada trilogi yang tak dapat dilupakan yaitu trilogi iman, ilmu dan amal. Ketiganya tidak dapat dipisahkan dan saling terhubung antara satu dengan yang lain. Ini jugalah yang sering dipelajari dalam pandangan pemikiran islam. Yang pertama kita harus punya pegangangan yaitu iman. Dalam Islam kita wajib beriman pada rukun iman yang enam. Kedua, apabila iman yang kuat telah melekat dalam hati maka sebagai manusia beriman kita juga harus berilmu untuk melengkapi iman tersebut. Ketiga, iman dan ilmu saja tidaklah cukup tanpa pengamalan oleh karena itu pengamalan juga sangat penting untuk melengkapi iman dan ilmu.
  



Komentar

Postingan populer dari blog ini