Hakuna Matata
      Hidup di dunia ini memang penuh perjuangan kadang kala badai datang tiba-tiba tanpa awan hitam atau hujan. Semua orang di dunia ini terlahir dengan jalan yang berbeda. Setiap orang punya keistimewaan tersendiri dan kelebihan kekurangan masing masing.Bagaikan lima jari tangan berbeda- beda tidak semuanya jari tengah yang ingin tinggi sendiri,ibu jari yang paling besar antara yang lain ,jari kelingking yang kecil nan penurut dan juga jari yang lain. Dan disetiap jari jari itu punya garis tangan yang bermacam-macam layaknya hidup dalam perjalanan panjang dan beraneka ragam. Dan di tangan kita sendirilah kita menggenggam hidup. Hidup adalah pilihan dan diri sendirilah yang akan memilih jalan hidup masing-masing baik atau buruk. Begitu juga pelangi, indah karena warnanya yang berbeda antara satu dan yang lain.Masing –masing yang punya keistimewaan tersendiri.
      Kita di lahirkan di dunia ini dengan sayap mengapa harus merangkak  dan menyerah pada nasib dalam hidup. Yang nyatanya dengan sayap kita bisa terbang tinggi menggapai mimpi. Untuk bertahan hidup kita tidak boleh menyerah pada nasib. Yang kita lakukan hanyalah untuk berdoa dan berusaha walaupun cobaan datang dari segala arah.Meski terlihat berat dan sukar.Karena sebuah keberhasilan diawali dengan  kegagalan.Jangan sampai setiap miliu dalam kehidupan yang kita punya habis hanya dengan menyerah dalam kepayahan dan putus asa yang berkepanjangan.
*       
    
      Ini semua salahku yang telah memilih emosi daripada realisasi.Aku mengambil langkah tanpa pikir panjang saat ibu menyuruh untuk melanjutkan masa belajarku  di dalam negeri saja. Justru aku berontak dan mengabaikan nasihatnya. Dan Jepang sebagai  Negara pilihanku, nyatanya tak seindah yang selama ini terbayang dalam benakku.Yang dahulu dalam bayanganku akan hidup damai dan tentram disini karena penduduknya yang begitu menghormati satu sama lain dan taat peraturan. Juga dimana aku bisa mempunyai banyak teman dari berbagai negara, hidup serba mudah dengan segala teknologi yang ada. Itu semua hanya mimpi. Diriku telah terkurung dalam penjara yang bernama mimpi. Jiwa ini hampa, hati terasa kosong. Mata ini selalu menutupkan kedua kelopaknya terhadap kenyataan dan enggan membukanya dalam dunia nyata. Terjebak dalam indahnya mimpi dan cita-cita  yang sedang terbayang.Berat melepaskan diri dari dunia mimpi untuk kembali ke dunia kenyataan.
      

       Beberapa hari setelah kuhirup udara jepang dan  kurasakn setiap hembusan udara yang memasuki tubuh ini tak seperti apa yang kubyangkan.  Detik demi detik berganti menit dan menit demi menit berubah menjadi jam yang terus berjalan mencapai  satu minggu hingga  di detik ini, bak setahun yang kurasakan begitu lama. Hari hari yang kujalani tak semudah dan tak seindah yang kubayangkan saat aku masih di negri asalku. aku rindu negri asalku, aku ingin pulang,, aku tak kuasa, aku tak tahan, ingin sekali aku berteriak itu semua namun tak ada daya dan upaya ini semua pilihanku ini semua salahku, salahku yang tidak mengikuti kata ibu walaupun akhirnya ibu dengan berat tetap melepaskan kepergianku ke salah satu daerah di asia timur ini. Pilihanku yang tak berlandas atas  kebijaksanaan dan hanya berlandas anggan- anggan dan mimpi saja.
         Kupandangi langit langit apartement kecil ini dengan pandangan kosong.Perlahan bola mataku berputar   menyusuri neon yang begitu terang dan indah, bergerak terus  memanangi daun jendela ditemani dengan gorden elektrik yang mewah ,almari kecil  dan unik disampingnya,dan kasur yang sangat empuk dan nyaman hingga meja kerjaku ini yang penuh dengan segala fasilitas.Aku menghela nafas huft…memang sebuah kebahagiaan tidak dapat diukur dengan harta. Di tempat yang sangat nyaman ini dan melebihi kata sederhanapun aku tak merasakan kebahagiaan justru yang kurasakan hampa, seperti tak ada tujuan hatiku bahkan tak bisa tenang  disini tidak ada suara adzan tidak seperti di rumah yang bisa kudengaar setiap lima waktu sholat.Untung saja aku bisa memasang adzan muslim go pro di smartphoneku yang akan menyala pada setiap waktu adzan. Setidaknya aku masih bisa mendengar adzan setiap lima waktu dan menjalankan sholatku walaupun adzan secara langsung jarang terdengar di daerah ini.
        Senja kini berganti malam menutup hari yang lelah.Di tengah gelapnya malam aku bermunajat kepadaNya entah angin apa yang membangunkanku  aku beranjak dari ranjangku membasuh wajahku dan menyempurnakan wudhuku. Diri ini memohon ampunanNya  karena mungkin rasa ini semua adalah hukuman untukku karena tidak menuruti perintah ibuku.Aku ingin pulang detik ini juga namun aku sudah terlanjur melangkah ini pilihanku sendiri aku harus berkonsekuensi dan konsisten pada diriku sendiri. Aku tidak boleh mengecewakan ibu, aku ingin pulang memang namun aku akan pulang dengan membawa kesuksesan. Membuat orang tuaku menangis bahagia karena keberhasilanku.Kupersembahkan sujud ini hanya kepadaNya tuhan seluruh alam dan sesungguhnya hanya Dialah yang berkuasa atas segala sesuatu.
     

     
      Matahari  bersinar terang memberi kehangatan kepada dunia. Dengan lincah dan sigap kulangkahkan kakiku menuju kereta bawah tanah  melompati  satu gerbong kereta ke gerbong kereta lain.Karena apartementku  yang tak dekat dari kampus aku harus menaiki kereta bawah tanah dan busway terlebih dahulu.Oke aku akan mencoba bersahabat dengan takdir aku akan mulai melewati hari hariku dengan sepenuh hati layaknya ini semua seperti yang kuinginkan, guman hatiku. Setelah aku keluar dari stasiun bawah tanah petualanganku menuju kampus belum usai aku harus menaiki busway  dan berjalan benerapa meter lagi. Namun tak apa ini semua sudah kuangggap sebagi olahraga karena disetiap detiknya otot otot ku akan memacu pergerakannya dimana aku melompat dari satu gerbong ke gerbong yang lain,terpaksa berdiri ketika busway penuh,hingga berlari keruangan kelasku dimana aku melihat dosen sudah datang terlebih dahulu. Jadi aku tidak perlu membayar mahal mahal ke gym hanya untuk merengangkan ototku.
      Tapi hari  ini ternyata dosenku berhalangan hadir dan aku akan ada kelas siang hari ini sedangkan waktu menunjukan pukul sepuluh tepat  tidak mungkin aku pulang ke apartementku sekarang. Aku menghela nafas panjang berdiri di tengah kampus ini menatap  langit yang biru,pepohonan yang rindang,serta gedung gedung kampus yang megah. Namun di tengah gedung gedung yang megah ini tak satupun tempat yang berminat kusinggahi. Masjid, tiba-tiba terlintas dalam pikiranku  ya masjid aku harus mencari masjid disekitar sini karena di daerah apartementku tidak kutemui satupun sebuah masjid. Aku memutar tubuhku 360 derajat penuh dari arah utara timur selatan barat tak ada satupun tanda tanda keberadaan masjid di kampus ini. Tak seperti di negriku yang disetiap meternya majid terbuka lebar.Aku melangkah keluar dari area kampus dan berjalan tanpa arah  namun langkah kakiku terhenti tiba-tiba di tengah gang kecil. Kulihat dari kejuhan ada bangunan tua sepertinya itu adalah bangunan yang bersejarah gumanku daalam hati.Aku berjalan menyusuri gang kecil ini dan menuju bangunan itu yang ternyata adalah sebuah masjid.
       SubhanaAllah aku tertegun melihat masjid ini . Baru pertama kalinya aku melihat majid sebagus ini di asia timur bentuknya sederhana  namun mewah arsitekturnya berbau kebudayaan jepang-cina halamanya asri banyak pepohonan rindang.Jamaahnya selalu penuh setiap lima waktu sholat tak terkecuali.Tak seperti masjid di negri asalku yang hanya penuh saat hari hari tertentu saja bahkan ketika waktu subuh menjemput shof pertamapun tak terisi penuh.Dan di depan masjid ini  terdapat tulisan nama masjid Hakuna Matata


اللهم غفرلي ذنو بي  وافتحلي ابواب رحمتك
       Kudahulukan kaki kananku memasuki masjid ini walaupun aku tidak sealim para ulama  dan diriku jauh dari kata taqwa namun aku adalah orang yang tahu agama. Aku dilahirkan dengan identitas seorang muslim dan aku berharap di masjid ini aku bisa lebih mendalami keislamanku dan merealisasikan hakikat identitasku sebagai seorang muslim yang taat. Iqomah dikumandangkan sholat akan segera dimulai aku segera mengambil shaf pertama dan disampingku seorang yang sudah separuh umur  berbagi sebuah sajadah denganku”arigato” ucapku pelan senyuman kecil terpancar dari wajahnya yang telah melewati masa muda.
      Sholat telah usai, para jamaah berhamburan keluar masjid. Kembali menjalani rutinitas siang masing-masing. Dan sekarang di dalam masjid ini  hanya tersisa diriku dan pak tua disebelehku yang tadi berbagi sajadah denganku. “Indonesian?” Tanyanya aku menganguk dengan senyum sepertinya ini orang baik.  “Anda orang sini?” Tanyaku. “ Iya rumah saya dekat sini mungkin beberapa meter lagi sampai.” Kemudian beliau beranjak dari duduknya seraya berkata “saya duluan”, aku membalasnya dengan senyum. Ramah sekali kataku dalam hati,aku  terus memandangi punggungnya yang semakin menjauh . Terbesit dalam pikiranku untuk  mengejar beliau dan menanyai namanya. Aku beranjak seraya mengejarnya namun detik mengalahkanku  aku kehilangan jejaknya beliau sudah tak terlihat dan tak tahu berjalan ke arah mana. Mungkin di lain waktu aku bisa bertemu kembali dan tidak akan kusia siakan kesempatanku untuk  berguru denganya.
      Keesokan harinya aku kembali menjalani rutinitas seperti biasanya tak lupa setelah kelas usai aku menyempatkan diri untuk singgah ke masjid hakuna matata.Allah sungguh maha Kuasa di masjid itu aku bertemu dengan pak tua itu untuk yang kedua kalinya namun ia bukan berada disampingku melainkan menjadi imam sholat di masjid itu.Setelah usai menunaikan sholatku aku segera menghampirinya dan menjabat tanganya   kenyataannya beliau bukan pak tua biasa melainkan guru besar di masjid ini. “Maaf guru boleh saya belajar mendalami ilmu agama kepada anda?” ,pintaku dengan penuh antusias.”Iya silahkan saya akan sangat senang ada orang yang belajar dengan saya, di zaman yang serba modern seperti saat ini sudah jarang sekali ada anak muda sepertimu yang mau mendalami ilmu agama.Mereka telah disibukan dengan berbagai kesibukan dan impian masing- masing dan lupa terhadap Penciptanya”.
      “Terimakasih banyak guru”.” Iya sama sama kamu tak perlu berterima kasih”.”Besok adalah hari libur nasional di jepang pastinya perkuliahan ditiadakan  kalau kamu mau kamu bisa berkunjung disini seharian penuh.Biasanya orang muslim di sekitar sini sering mengisi waktu senggang mereka dengan  berdiam diri atau mengadakan acara kecil kecilan karena minimnya sarana yang ada. Walaupun hanya sederhana dan kecil dengan begitu masih ada penyambung tali silaturahim kita  sesama muslim”, jelas guru panjang lebar.” Iya saya akan sangat senang untuk bergabung”,jawabku. “Sebentar lagi sudah masuk waktu  adzan, kamu bisa adzan”? tanya guru. Aku mengangguk. Silahkan beliau mengadahkan tanganya sebagi isyarat agar aku mulai adzan ,”Namun guru ……”  belum selesai aku berkatav beliau  menepuk bahuku dan meyakinkanku.Di sisi lain aku merasa tidak  pantas , namun ini adalah pengalaman  berharga setelah diri ini  perlahan mencoba  bersahabat  dengn takdir.sebuah takdir  yang  dahulu   menjadi mimpi buruku yang  membawaku ke tempat ini dan di daerah asia timur ini.
        Di masjid inilah aku menemukan kedamaian. Aku juga belajar banyak aku bisa memperdalami ilmu agama dan lebih jauh memaknai sebuah ketaqwaan. Dan di tanah inilah aku bertemu dengan guruku yang  sangat berjasa.Beliaulah yang memberi tahu banyak tentang masjid ini. Nama dari masjid ini sangatlah indah “Hakuna Matata”  berasal dari bahasa Swahili berarti jangan menyerah maknanya sendiri adalah mengajak kita agar senantiasa bersabar meskipun di dera cobaan yang berat  yang seakan akan tidak ada jalan keluar.
      Hari demi hari terlewati tidak teasa aku sudah lama berada di tempat ini. Namun aku masih haus akan ilmu  aku masih akan berguru dengan guruku di masjid Hakuna Matata. Dan mungkin di bulan suci yang tak lama lagi datang aku akan berdiam diri disini mengharapkan surga Allah yang terbentang luas bagi hambaNya yang  pantang menyerah dan berusaha mencapai ridhoNya. Layaknya manusia biasa kita tak tahu apa yang akan terjadi esok hari.Tiada daya dan upaya melainkanNya. Termasuk yang buruk dan yang baik diharapkan atau tidak. Dan tak kusangka hari itu menjadi hari  yang menyedihkan bagiku.
*       

       Hari  yang cerah tepat  hari jumat saat  itu jamaah masjid hakuna usai melaksanakan sholat jumat kami berbondong keluar dengan saling menyapa dan mengobrol hangat satu dengan yang lain. Begitu juga aku aku sedang bergurau dengan guru dan beberapa warga lain. Kami melepas tawa kami bersama, layaknya kebahagiaan di hari raya kecil.Tepat di tengah tawa kami saat menginjakan halaman masjid tiba tiba guru berhenti dan menunjuk  benda yang menyilaukan di arah kolam dengan mengerutkan wajah “apa itu?” seru guru seraya menuju benda itu kami semua mengikuti langkahnya.Setelah di hampiri dan diamati langsung dari dekat guru berteriak”jangan bergerak!, ini adalah ranjau tanah sepertinya ranjau ini masih aktif dan akan meledak jangan bergerak sejengkalpun dari kalian! segera panggil petugas keamanan!”” Guru bagaimana dengan anda? Anda dalam posisi yang sangat bahaya sekali anda hampir menginjak ranjau itu!””Aku baik-baik saja selama ini demi agamaku aku rela atas segalanya.””Kalian menjauhlah dari sini ini akan membahayakan kalian semua jika kakiku trgeser dan meledak, jangan sampai memakan korban  banyak!” “Cepat, mungkin ini tidak lama lagi.””Bertahanlah guru! petugas keamanan akan segera datang.”, teriak kami dari kejauhan.
      Allah berkehendak lain, tepat saat petugas datang ranjau itu meledak. Api, asap ,pecahan logam memenuhi pemandangan, guru tak terlihal lagi keberadaanya.Kami diamankan petugas,tidak dapat menolong.Hanya beberapa petugas saja yang dapat menolong guru.Guru bertahanlah guru gumanku dalam hati. Jantungku berdegup kencang,mulut ini tak berhenti  berkomat kamit mendoakanya.Malam ini aku tidak bisa tidur aku memikirkan keadaan guru aku berharap hari esok segera datang dan mengetahui keadaan Guru
      Keesokan harinya aku bergegas menuju masjid. Banyak orang membersihkan sisa leakan dan beberapa petugas disitu. “Bagaimana keadaan Guru?” tanyaku pada salah satu jama’ah.”Beliau masih tak sadarkan diri  namun untungnya ketika ledakan terjai beliau terlempar ke arah kolam sehingga tak banyak luka bakar padanya.” Syukurlah aku sedikit lega mendengarnya.Dari kejauhan beberapa petugas menghampiriku,” maaf  benarkah anda murid dari guru yang menjadi korban dalam ledakan di sini?” aku mengangguk.”Bisakah anda ikut saya ke kantor?”
      Aku menurut dan mengikuti petugas itu ke kantor. Namun  betapa terkejutnya bahwasanya aku di tuduh sebagai dalang di balik semua ini.”Benar kamu tidak melakukanya?” intograsi seorang petugas kepadaku.”Demi langit dan bumi aku tidak pernah berniat sekcilpun untuk melukai guru.”,jawabku.  “Yang saya tahu anda bukan penduduk asli sini dan nama anda adalah yhuda, dari nama anda pasti anda adalah seorang yahudi dan bukanya yahudi sangat ingin menghancurkan islam?” Hatiku bagai tersambar petir dan tersayat pedang yang tajam ketika aku terfitnah sebagai seorang yahudi hanya karena namaku Yhuda. Orang ini bodoh atau tidak punya otak bagaimana hanya dari sebuah nama ia mencurigaiku sungguh tak masuk akal  gumanku dalam hati. “Silahkan menjawab mengapa anda diam? Aku mengela nafas dan mengatur emosiku berusaha tetap tenang dan tidak berapi-api walaupun aku sangat tidak terima atas pertanyaannya.”Anda salah besar pak! Saya bukan sama sekali orang yahudi”,tegasku.”Dapatkah anda menunjukan identitas anda?” “Baik namun sekarang saya tidak sedang membawa kartu identitas saya bisa membawakannya besok”.”Tidak bisa anda tidak boleh keluar dari kantor ini sebelum memberi keterangan yang jelas.”  “Silahkan untuk sementara waktu anda bisa tidur di ruang tersangka sebelum ada bukti yang jelas.”

      Lesu, lemas jiwaku sangat lemas aku sangat syhok dengan fitnah itu. Ini semua salah paham aku tidak berasalah sama sekali . Ku pandangi ruang tersangka ini bagaimana bisa aku terkurung  di sini hanya karena sebuah nama, apa yang ada dalam pikiran mereka? Aku tidak akan menyerah begitu saja aku akan memperjuangkan diriku dan membuktikan bahwasanya aku tidak bersalah. Kuambil air wudhu dan hanya kepada Tuhankulah aku berserah dan tempatku mengadu di tempat yang jauh dari kata bagus inilah saing malam tidak pernah menyerah berdoa kepadaNya.Hanya dengan pertolonganNya diri ini bisa menyelesaikan semuanya.
       Hingga janjiNya terbukti, berhari hari seusai aku dituduh sebagai tersangka, akhirnya aku dibebaskan dari semua tuduhan. Petugas meminta maaf kepadaku karena telah membuat analisa yang salah besar.Sebenarnya diri ini ingin marah semarah-marahnya tetapi Nabiku tidak pernah mengajari hambanya balas dendam karena balas dendam hanya merugikan diri sendiri dan membuang-buang waktu sekalian tenaga. Akhirnya jelaslah kebenaran yang sesungguhnya setelah bersembunyi beberapa waktu. Hari-hari kembali berjalan normal, ternyata ranjau kemarin adalah ranjau dari zaman perang yang terpendam lama dalam tanah yang muncul setelah beberapa pengikisan tanah.Keadaan guru juga mulai membaik.Dan diriku bisa kembali lagi  ke masjid yang sangat bermakna sekali bagiku “Hakuna Matata”


















Nama      :  Hidayatun Nafiah
Alamat    : Jl. Kaliurang km 9,3 no 08 A gandok,sinduharjo,ngaglik,sleman,Yogyakarta
TTL         : Sleman 22 November 1999
Institusi   : Universitas Darussalam Gontor
Fakultas  : Hubungan Internasional
No Hp    : 085866515223

















Komentar

Postingan populer dari blog ini