Hakuna Matata
Hidup
di dunia ini memang penuh perjuangan kadang kala badai datang tiba-tiba tanpa awan
hitam atau hujan. Semua orang di dunia ini terlahir dengan jalan yang berbeda.
Setiap orang punya keistimewaan tersendiri dan kelebihan kekurangan masing
masing.Bagaikan lima jari tangan berbeda- beda tidak semuanya jari tengah yang
ingin tinggi sendiri,ibu jari yang paling besar antara yang lain ,jari
kelingking yang kecil nan penurut dan juga jari yang lain. Dan disetiap jari
jari itu punya garis tangan yang bermacam-macam layaknya hidup dalam perjalanan
panjang dan beraneka ragam. Dan di tangan kita sendirilah kita menggenggam
hidup. Hidup adalah pilihan dan diri sendirilah yang akan memilih jalan hidup
masing-masing baik atau buruk. Begitu juga pelangi, indah karena warnanya yang
berbeda antara satu dan yang lain.Masing –masing yang punya keistimewaan
tersendiri.
Kita
di lahirkan di dunia ini dengan sayap mengapa harus merangkak dan menyerah pada nasib dalam hidup. Yang
nyatanya dengan sayap kita bisa terbang tinggi menggapai mimpi. Untuk bertahan
hidup kita tidak boleh menyerah pada nasib. Yang kita lakukan hanyalah untuk
berdoa dan berusaha walaupun cobaan datang dari segala arah.Meski terlihat
berat dan sukar.Karena sebuah keberhasilan diawali dengan kegagalan.Jangan sampai setiap miliu dalam
kehidupan yang kita punya habis hanya dengan menyerah dalam kepayahan dan putus
asa yang berkepanjangan.
Ini semua salahku yang telah memilih emosi
daripada realisasi.Aku mengambil langkah tanpa pikir panjang saat ibu menyuruh
untuk melanjutkan masa belajarku di
dalam negeri saja. Justru aku berontak dan mengabaikan nasihatnya. Dan Jepang
sebagai Negara pilihanku, nyatanya tak
seindah yang selama ini terbayang dalam benakku.Yang dahulu dalam bayanganku akan
hidup damai dan tentram disini karena penduduknya yang begitu menghormati satu
sama lain dan taat peraturan. Juga dimana aku bisa mempunyai banyak teman dari
berbagai negara, hidup serba mudah dengan segala teknologi yang ada. Itu semua
hanya mimpi. Diriku telah terkurung dalam penjara yang bernama mimpi. Jiwa ini hampa,
hati terasa kosong. Mata ini selalu menutupkan kedua kelopaknya terhadap
kenyataan dan enggan membukanya dalam dunia nyata. Terjebak dalam indahnya
mimpi dan cita-cita yang sedang
terbayang.Berat melepaskan diri dari dunia mimpi untuk kembali ke dunia kenyataan.
Beberapa hari setelah kuhirup udara
jepang dan kurasakn setiap hembusan
udara yang memasuki tubuh ini tak seperti apa yang kubyangkan. Detik demi detik berganti menit dan menit demi
menit berubah menjadi jam yang terus berjalan mencapai satu minggu hingga di detik ini, bak setahun yang kurasakan
begitu lama. Hari hari yang kujalani tak semudah dan tak seindah yang
kubayangkan saat aku masih di negri asalku. aku rindu negri asalku, aku ingin
pulang,, aku tak kuasa, aku tak tahan, ingin sekali aku berteriak itu semua
namun tak ada daya dan upaya ini semua pilihanku ini semua salahku, salahku
yang tidak mengikuti kata ibu walaupun akhirnya ibu dengan berat tetap
melepaskan kepergianku ke salah satu daerah di asia timur ini. Pilihanku yang
tak berlandas atas kebijaksanaan dan hanya
berlandas anggan- anggan dan mimpi saja.
Kupandangi langit langit apartement kecil
ini dengan pandangan kosong.Perlahan bola mataku berputar menyusuri neon yang begitu terang dan indah,
bergerak terus memanangi daun jendela
ditemani dengan gorden elektrik yang mewah ,almari kecil dan unik disampingnya,dan kasur yang sangat
empuk dan nyaman hingga meja kerjaku ini yang penuh dengan segala fasilitas.Aku
menghela nafas huft…memang sebuah kebahagiaan tidak dapat diukur dengan harta.
Di tempat yang sangat nyaman ini dan melebihi kata sederhanapun aku tak
merasakan kebahagiaan justru yang kurasakan hampa, seperti tak ada tujuan
hatiku bahkan tak bisa tenang disini
tidak ada suara adzan tidak seperti di rumah yang bisa kudengaar setiap lima
waktu sholat.Untung saja aku bisa memasang adzan muslim go pro di smartphoneku yang
akan menyala pada setiap waktu adzan. Setidaknya aku masih bisa mendengar adzan
setiap lima waktu dan menjalankan sholatku walaupun adzan secara langsung
jarang terdengar di daerah ini.
Senja
kini berganti malam menutup hari yang lelah.Di tengah gelapnya malam aku
bermunajat kepadaNya entah angin apa yang membangunkanku aku beranjak dari ranjangku membasuh wajahku
dan menyempurnakan wudhuku. Diri ini memohon ampunanNya karena mungkin rasa ini semua adalah hukuman
untukku karena tidak menuruti perintah ibuku.Aku ingin pulang detik ini juga
namun aku sudah terlanjur melangkah ini pilihanku sendiri aku harus
berkonsekuensi dan konsisten pada diriku sendiri. Aku tidak boleh mengecewakan
ibu, aku ingin pulang memang namun aku akan pulang dengan membawa kesuksesan.
Membuat orang tuaku menangis bahagia karena keberhasilanku.Kupersembahkan sujud
ini hanya kepadaNya tuhan seluruh alam dan sesungguhnya hanya Dialah yang
berkuasa atas segala sesuatu.
Matahari
bersinar terang memberi kehangatan kepada dunia. Dengan lincah dan sigap
kulangkahkan kakiku menuju kereta bawah tanah
melompati satu gerbong kereta ke
gerbong kereta lain.Karena apartementku
yang tak dekat dari kampus aku harus menaiki kereta bawah tanah dan
busway terlebih dahulu.Oke aku akan mencoba bersahabat dengan takdir aku akan
mulai melewati hari hariku dengan sepenuh hati layaknya ini semua seperti yang
kuinginkan, guman hatiku. Setelah aku keluar dari stasiun bawah tanah
petualanganku menuju kampus belum usai aku harus menaiki busway dan berjalan benerapa meter lagi. Namun tak
apa ini semua sudah kuangggap sebagi olahraga karena disetiap detiknya otot
otot ku akan memacu pergerakannya dimana aku melompat dari satu gerbong ke
gerbong yang lain,terpaksa berdiri ketika busway penuh,hingga berlari keruangan
kelasku dimana aku melihat dosen sudah datang terlebih dahulu. Jadi aku tidak
perlu membayar mahal mahal ke gym hanya untuk merengangkan ototku.
Tapi hari
ini ternyata dosenku berhalangan hadir dan aku akan ada kelas siang hari
ini sedangkan waktu menunjukan pukul sepuluh tepat tidak mungkin aku pulang ke apartementku
sekarang. Aku menghela nafas panjang berdiri di tengah kampus ini menatap langit yang biru,pepohonan yang rindang,serta
gedung gedung kampus yang megah. Namun di tengah gedung gedung yang megah ini
tak satupun tempat yang berminat kusinggahi. Masjid, tiba-tiba terlintas dalam
pikiranku ya masjid aku harus mencari
masjid disekitar sini karena di daerah apartementku tidak kutemui satupun
sebuah masjid. Aku memutar tubuhku 360 derajat penuh dari arah utara timur
selatan barat tak ada satupun tanda tanda keberadaan masjid di kampus ini. Tak
seperti di negriku yang disetiap meternya majid terbuka lebar.Aku melangkah
keluar dari area kampus dan berjalan tanpa arah
namun langkah kakiku terhenti tiba-tiba di tengah gang kecil. Kulihat
dari kejuhan ada bangunan tua sepertinya itu adalah bangunan yang bersejarah
gumanku daalam hati.Aku berjalan menyusuri gang kecil ini dan menuju bangunan
itu yang ternyata adalah sebuah masjid.
SubhanaAllah aku tertegun melihat masjid ini
. Baru pertama kalinya aku melihat majid sebagus ini di asia timur bentuknya
sederhana namun mewah arsitekturnya
berbau kebudayaan jepang-cina halamanya asri banyak pepohonan rindang.Jamaahnya
selalu penuh setiap lima waktu sholat tak terkecuali.Tak seperti masjid di
negri asalku yang hanya penuh saat hari hari tertentu saja bahkan ketika waktu
subuh menjemput shof pertamapun tak terisi penuh.Dan di depan masjid ini terdapat tulisan nama masjid Hakuna Matata
اللهم غفرلي
ذنو بي وافتحلي ابواب رحمتك
Kudahulukan
kaki kananku memasuki masjid ini walaupun aku tidak sealim para ulama dan diriku jauh dari kata taqwa namun aku
adalah orang yang tahu agama. Aku dilahirkan dengan identitas seorang muslim
dan aku berharap di masjid ini aku bisa lebih mendalami keislamanku dan
merealisasikan hakikat identitasku sebagai seorang muslim yang taat. Iqomah
dikumandangkan sholat akan segera dimulai aku segera mengambil shaf pertama dan
disampingku seorang yang sudah separuh umur
berbagi sebuah sajadah denganku”arigato” ucapku pelan senyuman kecil
terpancar dari wajahnya yang telah melewati masa muda.
Sholat telah usai, para jamaah berhamburan
keluar masjid. Kembali menjalani rutinitas siang masing-masing. Dan sekarang di
dalam masjid ini hanya tersisa diriku
dan pak tua disebelehku yang tadi berbagi sajadah denganku. “Indonesian?”
Tanyanya aku menganguk dengan senyum sepertinya ini orang baik. “Anda orang sini?” Tanyaku. “ Iya rumah saya
dekat sini mungkin beberapa meter lagi sampai.” Kemudian beliau beranjak dari
duduknya seraya berkata “saya duluan”, aku membalasnya dengan senyum. Ramah
sekali kataku dalam hati,aku terus
memandangi punggungnya yang semakin menjauh . Terbesit dalam pikiranku
untuk mengejar beliau dan menanyai
namanya. Aku beranjak seraya mengejarnya namun detik mengalahkanku aku kehilangan jejaknya beliau sudah tak
terlihat dan tak tahu berjalan ke arah mana. Mungkin di lain waktu aku bisa
bertemu kembali dan tidak akan kusia siakan kesempatanku untuk berguru denganya.
Keesokan
harinya aku kembali menjalani rutinitas seperti biasanya tak lupa setelah kelas
usai aku menyempatkan diri untuk singgah ke masjid hakuna matata.Allah sungguh
maha Kuasa di masjid itu aku bertemu dengan pak tua itu untuk yang kedua
kalinya namun ia bukan berada disampingku melainkan menjadi imam sholat di
masjid itu.Setelah usai menunaikan sholatku aku segera menghampirinya dan
menjabat tanganya kenyataannya beliau
bukan pak tua biasa melainkan guru besar di masjid ini. “Maaf guru boleh saya
belajar mendalami ilmu agama kepada anda?” ,pintaku dengan penuh antusias.”Iya
silahkan saya akan sangat senang ada orang yang belajar dengan saya, di zaman
yang serba modern seperti saat ini sudah jarang sekali ada anak muda sepertimu
yang mau mendalami ilmu agama.Mereka telah disibukan dengan berbagai kesibukan
dan impian masing- masing dan lupa terhadap Penciptanya”.
“Terimakasih
banyak guru”.” Iya sama sama kamu tak perlu berterima kasih”.”Besok adalah hari
libur nasional di jepang pastinya perkuliahan ditiadakan kalau kamu mau kamu bisa berkunjung disini
seharian penuh.Biasanya orang muslim di sekitar sini sering mengisi waktu
senggang mereka dengan berdiam diri atau
mengadakan acara kecil kecilan karena minimnya sarana yang ada. Walaupun hanya
sederhana dan kecil dengan begitu masih ada penyambung tali silaturahim
kita sesama muslim”, jelas guru panjang
lebar.” Iya saya akan sangat senang untuk bergabung”,jawabku. “Sebentar lagi
sudah masuk waktu adzan, kamu bisa adzan”?
tanya guru. Aku mengangguk. Silahkan beliau mengadahkan tanganya sebagi isyarat
agar aku mulai adzan ,”Namun guru ……” belum selesai aku berkatav beliau menepuk bahuku dan meyakinkanku.Di sisi lain
aku merasa tidak pantas , namun ini
adalah pengalaman berharga setelah diri
ini perlahan mencoba bersahabat dengn takdir.sebuah takdir yang
dahulu menjadi mimpi buruku yang
membawaku ke tempat ini dan di daerah
asia timur ini.
Di masjid inilah aku menemukan kedamaian.
Aku juga belajar banyak aku bisa memperdalami ilmu agama dan lebih jauh memaknai
sebuah ketaqwaan. Dan di tanah inilah aku bertemu dengan guruku yang sangat berjasa.Beliaulah yang memberi tahu
banyak tentang masjid ini. Nama dari masjid ini sangatlah indah “Hakuna
Matata” berasal dari bahasa Swahili berarti
jangan menyerah maknanya sendiri adalah mengajak kita agar senantiasa bersabar
meskipun di dera cobaan yang berat yang
seakan akan tidak ada jalan keluar.
Hari
demi hari terlewati tidak teasa aku sudah lama berada di tempat ini. Namun aku
masih haus akan ilmu aku masih akan
berguru dengan guruku di masjid Hakuna Matata. Dan mungkin di bulan suci yang
tak lama lagi datang aku akan berdiam diri disini mengharapkan surga Allah yang
terbentang luas bagi hambaNya yang pantang menyerah dan berusaha mencapai
ridhoNya. Layaknya manusia biasa kita tak tahu apa yang akan terjadi esok
hari.Tiada daya dan upaya melainkanNya. Termasuk yang buruk dan yang baik diharapkan
atau tidak. Dan tak kusangka hari itu menjadi hari yang menyedihkan bagiku.
Hari yang cerah tepat hari jumat saat itu jamaah masjid hakuna usai melaksanakan
sholat jumat kami berbondong keluar dengan saling menyapa dan mengobrol hangat
satu dengan yang lain. Begitu juga aku aku sedang bergurau dengan guru dan beberapa
warga lain. Kami melepas tawa kami bersama, layaknya kebahagiaan di hari raya
kecil.Tepat di tengah tawa kami saat menginjakan halaman masjid tiba tiba guru
berhenti dan menunjuk benda yang
menyilaukan di arah kolam dengan mengerutkan wajah “apa itu?” seru guru seraya
menuju benda itu kami semua mengikuti langkahnya.Setelah di hampiri dan diamati
langsung dari dekat guru berteriak”jangan bergerak!, ini adalah ranjau tanah
sepertinya ranjau ini masih aktif dan akan meledak jangan bergerak sejengkalpun
dari kalian! segera panggil petugas keamanan!”” Guru bagaimana dengan anda? Anda
dalam posisi yang sangat bahaya sekali anda hampir menginjak ranjau itu!””Aku
baik-baik saja selama ini demi agamaku aku rela atas segalanya.””Kalian
menjauhlah dari sini ini akan membahayakan kalian semua jika kakiku trgeser dan
meledak, jangan sampai memakan korban
banyak!” “Cepat, mungkin ini tidak lama lagi.””Bertahanlah guru! petugas
keamanan akan segera datang.”, teriak kami dari kejauhan.
Allah
berkehendak lain, tepat saat petugas datang ranjau itu meledak. Api, asap
,pecahan logam memenuhi pemandangan, guru tak terlihal lagi keberadaanya.Kami
diamankan petugas,tidak dapat menolong.Hanya beberapa petugas saja yang dapat
menolong guru.Guru bertahanlah guru gumanku dalam hati. Jantungku berdegup
kencang,mulut ini tak berhenti berkomat
kamit mendoakanya.Malam ini aku tidak bisa tidur aku memikirkan keadaan guru
aku berharap hari esok segera datang dan mengetahui keadaan Guru
Keesokan
harinya aku bergegas menuju masjid. Banyak orang membersihkan sisa leakan dan
beberapa petugas disitu. “Bagaimana keadaan Guru?” tanyaku pada salah satu
jama’ah.”Beliau masih tak sadarkan diri
namun untungnya ketika ledakan terjai beliau terlempar ke arah kolam
sehingga tak banyak luka bakar padanya.” Syukurlah aku sedikit lega
mendengarnya.Dari kejauhan beberapa petugas menghampiriku,” maaf benarkah anda murid dari guru yang menjadi
korban dalam ledakan di sini?” aku mengangguk.”Bisakah anda ikut saya ke
kantor?”
Aku
menurut dan mengikuti petugas itu ke kantor. Namun betapa terkejutnya bahwasanya aku di tuduh
sebagai dalang di balik semua ini.”Benar kamu tidak melakukanya?” intograsi
seorang petugas kepadaku.”Demi langit dan bumi aku tidak pernah berniat
sekcilpun untuk melukai guru.”,jawabku.
“Yang saya tahu anda bukan penduduk asli sini dan nama anda adalah
yhuda, dari nama anda pasti anda adalah seorang yahudi dan bukanya yahudi
sangat ingin menghancurkan islam?” Hatiku bagai tersambar petir dan tersayat
pedang yang tajam ketika aku terfitnah sebagai seorang yahudi hanya karena
namaku Yhuda. Orang ini bodoh atau tidak punya otak bagaimana hanya dari sebuah
nama ia mencurigaiku sungguh tak masuk akal gumanku dalam hati. “Silahkan menjawab mengapa
anda diam? Aku mengela nafas dan mengatur emosiku berusaha tetap tenang dan
tidak berapi-api walaupun aku sangat tidak terima atas pertanyaannya.”Anda
salah besar pak! Saya bukan sama sekali orang yahudi”,tegasku.”Dapatkah anda
menunjukan identitas anda?” “Baik namun sekarang saya tidak sedang membawa
kartu identitas saya bisa membawakannya besok”.”Tidak bisa anda tidak boleh
keluar dari kantor ini sebelum memberi keterangan yang jelas.” “Silahkan untuk sementara waktu anda bisa
tidur di ruang tersangka sebelum ada bukti yang jelas.”
Lesu,
lemas jiwaku sangat lemas aku sangat syhok dengan fitnah itu. Ini semua salah
paham aku tidak berasalah sama sekali . Ku pandangi ruang tersangka ini
bagaimana bisa aku terkurung di sini
hanya karena sebuah nama, apa yang ada dalam pikiran mereka? Aku tidak akan
menyerah begitu saja aku akan memperjuangkan diriku dan membuktikan bahwasanya
aku tidak bersalah. Kuambil air wudhu dan hanya kepada Tuhankulah aku berserah
dan tempatku mengadu di tempat yang jauh dari kata bagus inilah saing malam
tidak pernah menyerah berdoa kepadaNya.Hanya dengan pertolonganNya diri ini
bisa menyelesaikan semuanya.
Hingga
janjiNya terbukti, berhari hari seusai aku dituduh sebagai tersangka, akhirnya
aku dibebaskan dari semua tuduhan. Petugas meminta maaf kepadaku karena telah
membuat analisa yang salah besar.Sebenarnya diri ini ingin marah
semarah-marahnya tetapi Nabiku tidak pernah mengajari hambanya balas dendam
karena balas dendam hanya merugikan diri sendiri dan membuang-buang waktu sekalian
tenaga. Akhirnya jelaslah kebenaran yang sesungguhnya setelah bersembunyi
beberapa waktu. Hari-hari kembali berjalan normal, ternyata ranjau kemarin
adalah ranjau dari zaman perang yang terpendam lama dalam tanah yang muncul
setelah beberapa pengikisan tanah.Keadaan guru juga mulai membaik.Dan diriku
bisa kembali lagi ke masjid yang sangat
bermakna sekali bagiku “Hakuna Matata”
Nama :
Hidayatun Nafiah
Alamat : Jl. Kaliurang km 9,3 no 08 A
gandok,sinduharjo,ngaglik,sleman,Yogyakarta
TTL : Sleman 22 November 1999
Institusi : Universitas Darussalam Gontor
Fakultas : Hubungan Internasional
No Hp : 085866515223
Komentar
Posting Komentar