Peristirahatan diantara Pergantian Pekerjaan
(Ar-rohatufiitabadulila’mal)
            Jantung yang berdetak setiap detiknya, nadi yang berdenyut, darah yang terus mengalir, siang dan malam yang tak berhenti, waktu yang berjalan, serta bumi yang senantiasa berputar pada porosnya, seluruhnya  menandakan adanya tanda kehidupan. Tak ada yang terhenti satupun kecuali pada waktunya untuk berhenti, saat Sang Pencipta berkehendak untuk menghentikan semuannya. Seperti halnya yang terjadi dalam dinamika pendidikan pesantren tak ada kekosongan setiap harinya bahkan dalam setiap jamnya aktifitas selalu berjalan dengan dinamis. Pendidikan lembaga pesantren datang untuk memberikan kontribusi perbaikan, perbaikan pembinaan generasi muda, serta perbaikan masa depan umat dan bangsa Indonesia.
Oleh karena itu, pendidikan berbasis pesantren merupakan salah satu karunia Allah SWT kepada bangsa Indonesia yang patut kita syukuri. Karena lembaga pendidikan pesanteren adalah lembaga pendidikan yang menerapkan system boarding school atau asrama. Pendidikan tidak hanya diajarkan dalam kelas saja melainkan juga dalam asrama. Kurikulum pesantren mencakup hampir seluruh aspek kehidupan, tidak hanya kurikulum dalam kelas saja melainkan di luar kelas yang meliputi pengajaran dan pendidikan. Kurikulum di luar kelas dinamakan kurikulum tersembunyi karena memang tidak tertulis, tapi sudah berjalan secara dinamis dan menjadi budaya pendidikan pesantren.
 Pemuda dan pemudi yang masuk pesantren harus siap diisi, dibina dan dibentuk. jiwanya harus diremajakan. Jiwa seorang muslim sejati adalah jiwa yang pandangan hidupnya berupa akidah, jalan hidupnya syariah, pola hidupnya akhlak, dan gaya adabnya akhlaq. Jangan sampai masuk pesantren yang setengah- setengah, jangan sampai jasad dipondok tapi jiwanya di tempat lain. Dimanapun kita berada jiwa dan jasad harus bersatu, keduanya merupakan sesuatu yang mutlak tak dapat dipishkan. Jiwa saja tanpa jasad itu dinamkan ghaib dan jasad saja tanpa ruh dinamakan mayit.  Meningkatkan kerohanian diri sangatlah penting karena jasad bukanlah apa-apa. Jasad hanyalah titipan sementara yang Allah SWT berikan  kepada umat manusia. Baik atau buruknya jasad tak akan mempengaruhi kualitas ruh yang ada dalam diri.
Santri tidak boleh merasa puas dengan apa yang sudah dicapai, enggan menerima kritikan. Even the best can be improved, meskipun sudah jadi yang terbaik masih bisa diperbaiki. Proses perbaikan terus berkesinambungan tidak kenal henti. Jiwa pondok pesantren juga harus senantiasa dijaga agar pesantren selalu mennunjukan eksistensinya, menunjukan jati diri pesantren. Jati diri pesantren tertanam dalam panca jiwa, yang pertama sesuatu yang tidak dapat ditembus iblis yakni keikhlasan. Kedua, musuh orang- orang tamak, hasad, dan materialistis yaitu kesederhanaan. Ketiga, musuh para penjajah dan lawan yakni kemandirian. Keempat, sesuatu yang paling ditakuti musuh islam mereka tidak suka apabila umat muslim bersatu yakni ukhwah islamiyah. Yang kelima, juga merupakan yang tidak disukai para musuh dan penjajah yakni kebebasan.
Totalitas pendidikan selalu menjiwai kehidupan dalam pesantren, pengembangan ilmu dan amal menjadi aktivitas utamanya. Selama 24 jam penuh santri dididik tanpa berhenti. Sakralitas kehidupan pesantren terjaga sepanjang zaman tidak lapuk karena hujan ataupun lekang karena panas. Seluruh kegiatan dilandasi dengan keikhlasan dan kejujuran yang bernilai ibadah sekaligus pendidikan. Tak ada kata isirahat atau berhenti dalam menuntut ilmu, seperti yang diterapkan  dalam kehidupan pesantren. Santri diwajibkan masuk pondok secara total. Tidak boleh memilih-milih kegiatan, suka atau tidak semuanya itu harus dijalani dengan kesungguhan dan ketaqwaan.
 Istirahat hanya berada dalam pergantian dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain. Entitas  istirahat dalam pergantian pekerjaan  ini mengandung nilai yang tidak hanya bergantung pada kepuasan hati atau jasmani saja, melainkan mengandung nilai ibadah. Dimana dengan berisirahat kita bisa mengisi kembali nilai-nilai rohani yang hilang dari dalam diri setelah melakukan berbagai kegiatan yang padat. Selain mengisi nilai kerohanian yang hilang dan menggumpulkan kekuatan, istirahat disini juga dapat memberikan ion-ion positif untuk menjadikan mental yang kuat dan ahklaq yang mulia. Salah satu contohnya adalah sholat, dimana santri, guru, kiai, dan seluruh, masyarakat pesantren dapat meluangkan pikiran dan  melapangkan hati dari segala kesibukan yang ada. Sejenak waktu untuk Sang Kuasa, berserah diri, sekaligus kembali mengumpulkan kekuatan untuk melakukan kegiatan selanjutnya
Allah SWT senantiasa dalam keadaan memelihara, menghidupkan, menciptakan, dan mematikan. Prinsip inilah yang diterapkan dalam lembaga pendidikan pesantren. Lembaga pendidikan pesantren selalu penuh dengan kegiatan, dinamika, dan kesibukan yang aktif dan dinamis. Tidak ada kekosongan bahkan ketika larut malam, banyak santri yang senantiasa bertahajud, ber’tikaf maupun membaca Al-Quran. Tidak ada kata kekosongan, apalagi kekosongan hati dan iman, kosong otak dari ilmu. Karena kemungkaran akan mudah merajalela dalam kekosongan. Dengan kosongnya waktu, hati, ataupun otak menandakan adanya bibit-bibit kerusakan karena itu semua adalah sumbernya kerusakan.
Waktu adalah modal hidup yang paling berharga, bahkan pepatah arab mengatakan bahwa waktu lebih berharga daripada emas. Oleh karena itu lembaga pendidikan pesantren selalu berupaya untuk menerapkan konsep waktu yang efisien, senantiasa mengajak santrinya untuk menghargai waktu. Memanfaatkan setiap detiknya dengan hal-hal yang bermanfaat. Menyusun rancangan kerja, target, dan rencana dengan sebaik mungkin. Karena semua itu akan membawa kita pada jalan kemenangan yaitu sukses. Seperti yang tertulis dalam surah Al-‘Asr “ demi waktu, sesunguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali yang beriman kepada Allah SWT dan beramal sholeh dan menasehati sesamanya dengan benar dan sabar.”
Manusia di dunia harus bisa memanfaatkan karunia Allah berupa umur, kesehatan, kesempatan, kemampuan, ilmu, dan lain sebagainya untuk beribadah, beramal saleh jariyah untuk di akirat kelak. Jangan sampai melalaikan ibadah serta menikmati karunia Allah SWT untuk selera nafsu semata dan kufur terhadap segala nikmat yang diberikanNya. Kesyukuran hendaknya menjadi landasan motivasi setiap orang  dalam beramal. Seperti yang dari awal menjdi cita-cita pesantren yang berorientasi akhirat maka dunia akan  terlampaui. Hingga tidak ada kata istirahat atau kekosongan dalam segala perbuatan dan pekerjaan yang diterapkan dalam kegiatan pesantren. Secara langsung maupun tidak langsung semua itu dapat membentuk karakter pribadi hebat dan membangun mental tangguh anak didiknya untuk mencapai kehidupan yang bermartabat, beradab, dan baik dunia akhirat.
Pintu dan jendela ilmu meliputi pengelihtan, pendengaran, akal fikiran dan hati nurani. Oleh karena itu setiap apa yang dilihat, didengar, dan diraskan seluruhnya adalah pendidikan termasuk istirahatnya para santri. Mulai bangun tidur hingga tidur kembali, dari duduk, berdiri, berjalan, hingga berlari semuanya berunsur pendidikan sekaligus ibadah. Panca indra banyak digunaknan untuk  menjadi alat penangkap berbagai informasi dan fenomena namun banyak juga yang belum mampu dilakukan oleh panca indra. Otak dengan daya fikir dan rasionilnya bisa menemukan berbagai kejadian, rahasia, dan fakta melengkapi yang tidak bisa dilakukan oleh panca indra. Tetapi seringkali nafsu mengelabuhinya sehingga banyak yang bertentangan antara nafsu dan nurani. Oleh karena itu agar keseharian kita baik hendaknya kita menjaga pendengaran, pengihatan dan hati nurani dalam kehidupan, termasuk menjaga waktu istirahat agar tidak terlena dengan kekosongan yang ada. Karena aktivitas harian yang baik  akan menimbukan kenyamanan dan ketentraman di hati setiap manusia yang melaksanakannya.
Hidup di dunia ini hanya dipersembahkan untuk Allah SWT, untuk menggapai kejayaan islam. Hidup dalam nilai-nilai yang luhur sesuai dengan Al-Quran dan sunah bukan hanya untuk menumpuk kekayaan dan bersenang-senang. Jangan bersifat hidup “kambing” yang hanya memikirkan kehidupan egoistis saja, memikirkan kebutuhan hidup sendiri. Banyak nilai- nilai kedisiplinan yang diterapkan dalam pendidikan pesantren mulai dari disiplin pekerjaan, peraturan, waktu, dan yang lain. Konsep arrohatufiitabadulila’mal sangat mencerminkan sekali nilai- nilai kedisiplinan waktu. Kedisiplinan dalam hidup memang harus diterapakan dimanapun dan kapanpun, karena sesudah mati pun kita tetap akan terkena disiplin. Disiplin yang kita terima di akhirat kelak merupakan hasil ikhtiar kita di dunia meringankan atau memberatkan, Mau tidak mau kita harus menanamkan nilai-niali kedisiplinan dalam hati dimanapun dan kapanpun. Hidup adalah perjuangan, manusia tidak boleh berleha-leha dan harus berjuang dan rela berkorban untuk mencapai kesuksesan. Berakit-rakit ke hulu berenang ke tepian bersakit-sakit dahulu bersenang kemudian.
Kehidupan seseorang tidak diukur beberapa lama ia berfnafas, tapi diukur dari produktifitas kerjanya dan bagaimana ia mengisi waktu kosongnya. Kekosongan yang ada menjadikan kita bisa melihat bagaimana nilai daripada seorang diri itu. Karena hakikat nilai manusia yang lebih tampak bukan saat ia bekerja melainkan saat kekosongan. Contohnya seorang murid yang berada dikelas mau tidak mau pasti ia belajar, entah sungguh-sungguh atau hanya sekedar menunaikan kewajiban saja. Namun kita lihat kembali bagaimana ia mengisi waktu kosongnya di rumah, bila ia mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat. Itulah hakikatnya murid yang teladan, tak mengenal tempat dan waktu dimanapun ia akan memanfaatkan waktunya sebaik mungkin. Sebaliknya bila ia mengisi waktunya di rumah hanya dengan bermain, bercanda dan hal- hal yang tidak bermanfaat lainya itulah hakikat nilai daripadanya. Setiap orang harus memahami dirinya sendiri-sendiri sebelum memahami orang lain. Karena hancurlah seseorang yang tak memahami atau mengetaui dirinya sendiri.
Manusia ada empat kategori, yakni manusia yang mengetahui kalau ia tahu, manusia yang tidak tahu kalau ia tahu, manusia yang tidak tahu dan tahu  kalau ia tidak  tahu, dan manusia yang tidak mengetahui kalau ia tak tahu. Oleh karena itu hendaknya setiap orang harus mempunyai kesadaran diri masing-masing. Dengan kesadaran diri itu setiap orang akan mengetahui kelebihan dan kekurangannya, mempunyai motivasi dan semangat, mampu berhubungan baik dengan semua pihak, serta mempunyai tujuan kehidupan yang jelas. Kebaikan yang dilakukan seseorang akan kembali pada dirinya masing-masing, dan sebaliknya kejelakan yang dilakukan juga akan berdampak jelek pada diri sendiri.
           Umat Islam di dunia umumnya dan umat islam di Indonesia khususnya sangatlah potensial. Namun masyarakat Indonesa masih mudah diadu domba dan dipecah belah. Ini merupakan penyakit hati dari warisan zaman penjajahan hingga kini. Mudah dikelabuhi dengan tipu daya dan iming- iming sesaat. Di zaman yang kekinian,  banyak generasi muda penerus bangsa yang  menyiakan waktu emasnya, dibutakan  dengan kemilau nikmat dunia yang menyengsarakan. Berfoya -foya, pergaulan bebas, judi, bahkan minuman keras menjadi teman sehari-hari. Tidak menyadari bahwa generasi muda adalah aset yang berharga bagi bangsa. Dimana para generasi muda seharusnya menuntut ilmu, menggali potensi diri, dan mencari pengalaman sebanyak mungkin untuk merealisasikan masa depan yang gemilang dan membangun peradaban bangsa yang lebih maju.
Padahal di negeri zamrud khatulistiwa ini kita dapat memanfaatkan segala potensi yang ada. Banyak sumber daya alamnya yang melimpah ruah untuk keberlangsungan generasi anak cucu bangsa. Menciptakan kehidupan berbangsa, beragama, dan bernegara yang makmur  bahagia. Oleh karena itu lembaga pendidikan pesantren menjawab semua tantangan yang ada. Pesantren menjadi benteng terakhir bangsa Indonesia untuk memperbaiki generasi mudanya. Memperbaiki mental anak bangsa dengan konsep pendidikan karakternya. Mencetak ulama yang intelek bukan intelek yang tahu agama saja. Membekali para anak didiknya untuk senantiasa membela bangsa dan cinta tanah air Indonesia.
Setelah disibukan dengan urusan dunia maka hendaknya tidak lupa urusan akhirat. Seperti aktivitas dalam pendidikan pesantren yang berorientasi dunia dan akhirat. Menempatkan  konsep istirahat yang berada dalam pergantian pekerjaan(ar-rohatufiitabadulila’mal). Kembali ke hakikatnya bahwasannya pekerjaan seseorang akan habis saat habis umurnya atau meninggal. Selama seseorang itu masih hidup, selama jantungnya masih berdetak, nadinya masih berdenyut, dan nafasnya masih berhembus, maka ia tak akan berhenti beraktivitas, tidur hanya menjadi selingan aktivitas. Tidur dan istirahat  hakiki hanya berada dalam surga, kekal disisi Allah SWT. Dimana kita akan hidup tenang, tentram dan puas atas perbuatan baik yang dilakukan selama di dunia. Masing-masing akan mendapat ketinggian kedudukan sesuai dengan pilihan dan kualitas amal perbuatan masing-masing.





Komentar

Postingan populer dari blog ini